Feeds:
Pos
Komentar

[Resensi] Anna Karenina

Anna Karenina

Judul : Anna Karenina

Pengarang : Leo Tolstoy

Penerbitan : 1999 oleh Wordsworth Classics (B. Inggris)

Jumlah Halaman : 813

Genre : romance

Anna! Oh, Anna!

Jika hanya ada satu hal yang saya pelajari dari kisahmu, hal itu adalah “love is not enough, because life will get in the way“. Cinta tidak cukup untuk mempertahankan suatu hubungan, karena berbagai faktor kehidupan akan mempengaruhi keberlangsungan hubungan tersebut.

Anna Karenina, seorang sosialita Russia pada akhir abad ke-19. Anna yang cerdas dan memesona mencampakkan suami serta anaknya demi kehidupan bersama kekasih gelapnya, Alexis Vronsky. Ketika perselingkuhan mereka menjadi pengetahuan umum, Anna tidak hanya kehilangan keluarganya, namun ia juga kehilangan status sosialnya sebagai sosialita ketika lingkungan pergaulan masyarakat kelas atas Russia mengucilkannya. Anna hanya memasang muka tebal dan mencoba hidup sewajarnya karena dia percaya bahwa cintanya dengan Vronsky adalah segala-galanya.

Selain kisah cinta Anna, buku Anna Karenina pun menceritakan kisah Constantine Levin, seorang petani yang memendam rasa kepada Kitty Shcherbatskaya, adik ipar dari kakaknya Anna Karenina. Setelah lamarannya kepada Kitty ditolak, Levin kembali ke desa dan mencurahkan seluruh perhatiannya kepada rumah dan tanahnya, sekaligus menulis sebuah buku mengenai pertanian. Usaha Levin untuk mengembangkan tanah yang dimilikinya diceritakan berselang-seling dengan upaya Anna dan Vronsky untuk hidup berlandaskan cinta yang terhina.

Membaca Anna Karenina memang membutuhkan kerja keras, namun saya tidak menyesali dua bulan yang saya habiskan untuk membaca buku ini. Rasanya kurang tepat jika Anna Karenina disebut sebagai buku yang menghibur, karena walaupun tingkat detail buku ini menjadi candu, namun juga menjadi salah satu alasan mengapa buku ini begitu berat untuk dibaca. Bayangkan saja, selain kaya akan detail mengenai kehidupan sosial Russia di abad ke-19, Anna Karenina pun memiliki banyak chapter mengenai teknik pertanian (dalam subplot Levin) – yang awalnya menarik tapi lama-kelamaan menjadi cukup membosankan.

Meskipun ceritanya agak berat dan ketebalan bukunya sangat mengintimidasi, saya rasa setiap orang harus membaca Anna Karenina setidaknya sekali seumur hidup. Ceritanya sangat kaya, dan walaupun menggambarkan budaya yang cukup berbeda dengan budaya Indonesia, Leo Tolstoy sangat lihai dalam menggambarkan suatu peristiwa dari berbagai perspektif. Kehidupan Anna, Vronsky, Levin – semuanya saling berhubungan dan segala keterkaitan itu diceritakan mengalir dengan sangat mulus. Tidak ada peristiwa yang berdiri sendiri.

Karakter favorit saya adalah Levin. Walaupun dia digambarkan sebagai orang yang cukup polos, khususnya dalam kehidupan sosial Russia, karakter Levinlah yang saya rasa mengalami perubahan terbesar sepanjang buku ini. Segala kejadian dalam Anna Karenina begitu mempengaruhinya sehingga dia berubah dari seorang agnostik menjadi seseorang yang lebih spiritual.

Mengenai tokoh Anna Karenina sendiri, yah, sebetulnya saya agak bingung mengapa saya sering mendengar Anna disebut-sebut sebagai salah satu heroin terbaik dalam dunia sastra, karena menurut saya perilaku Anna kurang baik untuk dijadikan contoh. Mungkin keteguhan dirinya untuk memperjuangkan cintanya yang memberikan dia julukan tersebut. Yang jelas, terlepas dari setuju/tidaknya dengan kelakuan Anna, saya sangat merekomendasikan buku ini, apalagi bagi yang menyukai genre romance dan ingin beralih ke kisah romance yang lebih berbobot.

[Resensi] The Secret Garden

The Secret Garden

Judul : The Secret Garden

Pengarang : Frances Hodgson Burnett

Penerbitan : 1967 oleh Puffin Books (B. Inggris)

Jumlah Halaman : 253

Genre : anak

Setelah orangtuanya meninggal akibat kolera, Mary Lennox dikirim ke Yorkshire, Inggris, untuk tinggal dengan pamannya yang nyentrik, Archibald Crane. Rumah besar dengan beratus-ratus kamar dan kebun yang luas yang terletak di tepi sebuah moor (semacam padang rumput yang ditumbuhi semak belukar) pada awal abad ke-20 menjadi latar salah satu cerita klasik anak-anak ini.

Penghuni rumah besar itu hanya Mary, pamannya dan sejumlah pelayan. Tidak adanya teman seumur maupun seorang pengasuh membuat Mary terbiasa menghabiskan hari-harinya seorang diri. Sebuah cerita mengenai salah satu taman yang ditutup dan telah dikunci selama 10 tahun membuat Mary penasaran. Ia menghabiskan waktunya mencari kebun tersebut, dan jerih payahnya membuahkan hasil. Mary menemukan taman rahasia itu dan dengan Dickon, adik salah satu pelayannya, mencoba menghidupkan kembali taman yang nyaris mati itu.

Tapi jangan salah, taman yang terkunci bukan satu-satunya rahasia yang terdapat di rumah itu.

***

Kisah Mary Lennox yang menemukan taman rahasia cukup saya kenal, karena dulu sudah pernah menonton film adaptasinya yang dibuat tahun 1993. Walaupun sudah mengetahui ceritanya, tetap saja bukunya memiliki sihir tersendiri. Pemandangan alam Yorkshire yang suram, dengan hujan yang “wuthering” dan hewan-hewan moor, membuat saya merindukan kenyamanan yang dirasa ketika saya berada jauh dari keramaian; keteduhan dan ketenangan yang datang dengan keterpencilan.

Perubahan yang terjadi pada taman rahasia itu melambangkan perubahan yang terjadi kepada para penghuni rumah. Mary yang awalnya dingin, egois dan pemarah berubah menjadi gadis yang ramah dan lebih simpatik. Begitu juga dengan seorang karakter utama yang jika diceritakan benar-benar menjadi spoiler – jadi tidak akan saya ceritakan :p.

Intinya, Frances Hodgson Burnett sangat berhasil membangun mood buku ini. Pembaca benar-benar diajak ke dunia lain ketika berada di taman rahasia. Rumah paman Mary, Archibald Crane, pun terasa sangat dingin dan kosong, apalagi Mary hanya berinteraksi dengan orang yang itu-itu saja.

Tidak salah buku ini menjadi salah satu cerita anak klasik, karena tidak hanya menggambarkan dunia anak yang penuh keajaiban, tapi juga memberikan harapan. The Secret Garden sangat saya rekomendasikan, tidak hanya bagi anak-anak, tapi bagi siapapun yang merasakan keajaiban dalam setiap kebaikan.

[Resensi] The Alchemyst

The Alchemyst

Judul : The Alchemyst (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #1)

Pengarang : Michael Scott

Penerbitan : 2007 oleh Delacorte Press (B. Inggris)

Jumlah Halaman : 375

Genre : fantasi

Bagi penggemar Harry Potter, nama Nicholas Flamel mungkin sudah tidak asing lagi. Dalam buku pertama seri tersebut, Flamel diceritakan sebagai seorang alkemis yang menggunakan philosopher’s stone untuk hidup abadi. Dalam kehidupan nyata, Flamel adalah seorang alkemis yang meninggal di Paris pada tahun 1418.

Dalam serial The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel karya Michael Scott, tokoh Flamel diceritakan masih hidup di abad ke-21 dan tinggal di San Fransisco. Nicholas Flamel dan istrinya, Perenelle (yang juga dikisahkan hidup abadi), memiliki toko buku, di mana seorang anak bernama Josh Newman bekerja pada masa liburannya. Kembaran Josh yang bernama Sophie bekerja di sebuah coffee shop yang berada di seberang jalan dari toko buku milik Flamel.

Kedatangan Dr. John Dee, seorang ahli sihir Inggris (yang juga hidup abadi), ke toko milik Flamel menjadi pemicu serangkaian kejadian magis yang melibatkan Josh dan Sophie. Dee datang ke toko milik Flamel untuk mencuri Codex, sebuah buku yang ditulis oleh Abraham the Mage. Dee menginginkan buku itu karena selain memuat resep ramuan kehidupan abadi menggunakan philosopher’s stone, buku itu juga mengandung sejarah serta berbagai rahasia dunia. Di tangan yang salah, rahasia-rahasia yang terdapat dalam Codex dapat mengakibatkan kehancuran dunia.

Akhir dari pertemuan singkat dengan Dee itu menjadi malapetaka bagi Flamel: tokonya hancur, istrinya diculik oleh Dee, serta Codex pun berhasil direbut oleh Dee. Untungnya, Josh berhasil merobek dua lembar terakhir dari Codex, yang juga merupakan dua lembar paling penting bagi misi yang hendak dijalankan Dee. Ia membutuhkan Codex untuk membangkitkan kembali ras Dark Elder untuk kembali menguasai dunia. Namun karena hilangnya dua halaman tersebut, Dee harus menunda rencananya untuk membangkitkan kembali para Dark Elder – prioritasnya berubah menjadi mengejar Flamel serta si kembar Josh dan Sophie yang kini berada dalam lindungan Flamel.

Untuk melindungi Josh dan Sophie dari Dee dan kekuatan sihirnya, Flamel memutuskan untuk membangitkan kemampuan sihir Josh dan Sophie sekaligus melatih mereka untuk menguasai elemental magic: udara, api, air, tanah. Salah satu orang yang dapat membangkitkan kekuatan sihir dan  adalah seorang Elder, yaitu Hekate. Dalam perjalanan menuju realm milik Hekate, mereka dibantu oleh seorang Elder generasi baru ahli beladiri bernama Scatach, sementara Dee dibantu oleh dua Elder, Morrigan dan Bastet.

Walaupun awalnya memiliki prosperk cerah, pada akhirnya ternyata bukunya biasa-biasa saja. Memang, seluruh buku menceritakan kejadian yang terjadi dalam dua hari, dan sangat banyak hal yang terjadi dalam tempo waktu tersebut. Sayangnya, penempatan dialog yang kurang pas, terutama di bagian aksi, membuat cerita tersendat-sendat dan terasa bertele-tele. Saya juga kesulitan menamatkan buku ini karena kurang greget.

Karakter-karakternya pun kurang berkembang. Josh dan Sophie adalah tokoh-tokoh yang sangat hambar – kurang menarik dan tidak bisa menarik simpati saya sebagai pembaca. Dr. John Dee jugs merupakan antagonis yang membosankan. Sejauh ini, tokoh favorit saya adalah Scatach, ahli bela diri yang umurnya bahkan jauh lebih tua daripada Flamel.

Walaupun bukunya biasa-biasa saja, masalahnya, saya sangat suka dengan mitologi, dan buku ini mencaplok sangat banyak tokoh dari berbagai jenis mitologi, seperti Scatach, Bastet dan Morrigan. Scatach dan Morrigan berasal dari mitologi Irlandia, sedangkan Bastet merupakan dewi berkepala kucing dari mitologi Mesir kuno. Nicholas dan Perry Flamel, serta John Dee pun bukan tokoh rekaan sang pengarang – mereka benar-benar pernah hidup di bumi ini berabad-abad yang lalu. Kepiawaian Michael Scott dalam memasukkan unsur-unsur sejarah, mitologi dan sihirlah yang sebetulnya memicu saya untuk menyelesaikan buku ini, karena saya selalu menanti-nantikan tokoh mitologi yang akan dimunculkan berikutnya.

Secara keseluruhan, bukunya biasa saja. Menghibur, tapi kurang greget. Sangat dianjurkan bagi yang menyukai fantasi, apalagi yang berlandaskan mitos, seperti buku-bukunya Rick Riordan. Saya rasa anak-anak akan suka buku ini karena unsur petualangannya cukup kental, walaupun karakter-karakternya kurang tergali dengan baik.

[Resensi] Autumn In Paris

Judul : Autumn In Paris

Pengarang : Ilana Tan

Penerbitan : 2007 oleh Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman : 264

Genre : romance

Belakangan ini, saya dan teman saya, K, ingin menambah buku-buku karya pengarang Indonesia yang kami baca. Untuk menghemat, sudah beberapa kali kami memutuskan untuk patungan membeli buku. Salah satunya adalah Autumn In Paris oleh Ilana Tan. K sudah pernah membacanya, namun saya belum. Kami memutuskan untuk membacanya karena kami membutuhkan bacaan yang ringan dan menghibur.

Ceritanya, Tara Dupont yang bekerja sebagai penyiar radio di Paris, berkenalan dengan Tatsuya Fujisawa, seorang pria Jepang yang tengah ke Paris untuk bekerja sekaligus mencari ayah kandungnya. Karakter Tatsuya membangkitkan rasa penasaran Tara, dan hubungan pertemanan mereka lama-lama tumbuh menjadi cinta…

… Dan sepertinya hanya itu yang bisa saya ceritakan. Tidak mungkin menceritakan lebih jauh karena konflik utama dalam buku ini merupakan spoiler yang sangat mempengaruhi alur cerita. Tapi intinya, ada seseorang dalam masa lalu Tara dan Tatsuya yang mengancam keberlangsungan hubungan cinta mereka berdua.

Sebetulnya sinopsis cerita di atas tidak jauh berbeda dari blurb yang terdapat di belakang buku ini. Tapi mau bagaimana lagi, karena alur ceritanya sangat sederhana dan mudah ditebak. Namun walaupun mudah ditebak, ternyata ketika membaca buku ini saya tetap saja saya menangis “shameless tears”, kalau kata K, hahaha. Autumn In Paris membuat saya cukup galau karena masalah yang mereka hadapi dapat menghancurkan hubungan mereka. Ibaratnya, kalau menemui batu sandungan seperti ini, ya, pupus sudah semua harapan.

Tetapi walaupun sangat sederhana, Autumn In Paris cukup menghibur. Gaya bercerita Ilana Tan yang tidak bertele-tele dan dialog yang enak dibaca membuat beberapa jam yang saya habiskan untuk membaca buku ini tidak terasa terbuang dengan percuma. Kalau memang mencari bacaan yang mudah dicerna tapi masih mampu mengaduk-aduk emosi, Autumn In Paris bisa dibaca. Saya jadi penasaran dengan karya Ilana Tan yang lain, tapi sepertinya harus menyiapkan mental dulu – takutnya menguras air mata lagi seperti Autumn In Paris, hehehe. 😀

 

“Top Ten Tuesday” adalah sebuah meme mingguan yang diadakan oleh The Broke and the Bookish. Minggu ini topiknya bebas, jadi saya memutuskan untuk membuat daftar 10 karakter fiksi terfavorit!

  1. Jupiter Jones, dari seri Trio Detektif oleh Robert Arthur, Jr. Jupiter adalah ketua dari kelompok Trio Detektif, tiga anak remaja yang memecahkan kasus-kasus misterius yang umumnya terjadi di wilayah Rocky Beach, California. Jupiter digambarkan sebagai anak yang cerdas dan agak sok tahu. Keahliannya menyamar sering membantu keompok detektifnya dalam memecahkan berbagai kasus.
  2. Hercule Poirot, karangan Agatha Christie. Kadang saya suka berpikir kalau Poirot adalah penjelmaan Jupiter Jones dari Trio Detektif ketika dia sudah dewasa. Dua-duanya memiliki sikap sok tahu dan angkuh yang sama. Poirot adalah detektif jenius yang tidak hanya menggunakan bukti-bukti fisik untuk mengungkap pelaku kejahatan, tetapi ia juga menganalisa kasus dari sisi psikologis tokoh-tokoh yang terlibat.
  3. Rubeus Hagrid, dari seri Harry Potter oleh J.K. Rowling. Hagrid, orang yang membukakan pintu ke dunia sihir kepada Harry. Hagrid memang makhluk setengah raksasa yang memiliki kecenderungan untuk menyukai “monster” ganas, tapi dia sangat setia kepada Dumbledore, Harry dan teman-temannya. Saya sangat bersyukur Hagrid tidak menemui ajalnya sepanjang serial ini :).
  4. Bartimaeus, dari The Bartimaeus Trilogy oleh Jonathan Stroud. Dua kata: catatan kaki! 😀
  5. Sam Gamgee, dari The Lord of the Rings oleh J.R.R. Tolkien. Sam, tukang kebun Frodo yang setia dari awal hingga akhir perjalanannya ke Mordor.
  6. Percy Jackson, dari seri Percy Jackson and the Olympians dan The Heroes of Olympus oleh Rick Riordan. Kemampuan Percy untuk mengendalikan air saaaangat keren! Namun walaupun dia merupakan salah satu demigod terkuat di antara teman-temannya, Percy tetap rendah hati dan apa adanya: bicaranya ceplas-ceplos dan sikapnya agak kikuk.
  7. Nico di Angelo, dari seri Percy Jackson and the Olympians dan The Heroes of Olympus oleh Rick Riordan. Nico itu salah satu karakter yang mengalami perkembangan karakter paling menarik dari seri Percy Jackson and the Olympians hingga The Heroes of Olympus. Dia berubah dari bocah rewel yang sangat bergantung kepada kakaknya menjadi anak yang tertutup dan misterius – mungkin karena interaksi berlebihnya dengan orang mati ya. Perannya di kedua seri tersebut cukup besar, namun tidak pernah diceritakan secara berlebihan sehingga mengundang rasa penasaran.
  8. Erica Yurken, dari Hating Alison Ashley oleh Robin Klein. Pembohong kronis yang sangat imajinatif! Erica akan mengarang cerita apapun agar kehidupan nyatanya tidak ketahuan oleh teman-temannya, terutama oleh Alison Ashley, si anak baru yang membuat Erica minder setengah mati.
  9. Ellie Linton, dari seri Tomorrow oleh John Marsden. Oke, Ellie bisa menyetir Land Rover, motor, traktor, bahkan truk! Ia juga mampu menjadi pemimpin di antara sekelompok kecil teman-temannya yang selamat ketika kota kecil mereka diserang oleh penjajah.
  10. Rowena Batts, dari Blabbermouth, Sticky Beak dan Gift of the Gab oleh Morris Gleitzman. Walaupun bisu, Rowena sangat ekspresif dalam berkomunikasi. Seperti tokoh-tokoh rekaan Morris Gleitzman yang lain, Rowena cenderung bersikap impulsif dan memiliki pendapat yang agak “nyeleneh” mengenai hal-hal pada umumnya.

“Top Ten Tuesday” adalah sebuah meme mingguan yang diadakan oleh The Broke and the Bookish. Minggu ini topiknya adalah 10 karakter yang paling mengingatkan kita akan diri kita sendiri. Topik yang tidak terlalu sulit, karena buku-buku yang disukai pasti memiliki karakter yang kita rasa mirip dengan diri kita sendiri. 😀

  1. Mary Anne Spier, dari The Baby-Sitter’s Club oleh Ann M. Martin. Dari semua anggota klub baby-sitter ini, waktu SD dulu saya merasa paling mirip dengan Mary Anne yang pendiam dan pemalu. Selain itu, kita berdua rajin mencatat dan catatan kita cukup rapi.
  2. Amy Sutton, dari Sweet Valley Twins oleh Francine Pascal. Sejak kecil, saya selalu merasa diri saya ini tomboy seperti Amy – walaupun saya tidak terlalu jago olahraga dan agak kikuk. Selain itu, kita berdua sama-sama cuek!
  3. Isabelle Melies, dari The Invention of Hugo Cabret oleh Brian Selznick. Kita berdua tergila-gila dengan buku, karena buku menjadi sumber petualangan yang tidak terbatas.
  4. Remus Lupin, dari Harry Potter oleh J.K. Rowling. Seumur hidupnya, Lupin selalu menjadi orang luar, terus-menerus menjadi orang yang “berbeda” dengan yang lainnya. Tapi teman-temannya tidak melihat “perbedaan” itu sebagai suatu kekurangan – mereka menerima Lupin apa adanya.
  5. Bilbo Baggins, dari The Hobbit oleh J.R.R. Tolkien. Hampir di setiap “petualangan” yang saya jalani, pasti ada saat-saat dimana saya menyesali kegiatan yang tengah saya lakukan (karena capek, lapar, takut, ngantuk, dll) dan merindukan kenyamanan rumah. Sama seperti Bilbo, biasanya kegiatan-kegiatan ini tidak memiliki tujuan mulia, tapi hanya untuk kepuasan pribadi. Yang jelas, walaupun kadang terpikir untuk menyerah, ketika sudah sampai di rumah saya pasti ingin segera berpetualang lagi.
  6. Katniss Everdeen, dari The Hunger Games oleh Suzanne Collins. Salah satu alasan kenapa saya sangat suka The Hunger Games adalah karena Katniss adalah pahlawan yang sangat manusiawi. Dia punya banyak kekurangan, tapi dia selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik. Jalan pikiran kita berdua mirip, dan kalau saya mengikuti Hunger Games, sepertinya saya akan melakukan hal yang sama yang dilakukan olehnya.
  7. Meggie Folchart, dari Inkheart oleh Cornelia Funke. Meggie ini kutu buku berat. Dia tidak hanya suka membaca, tapi dia juga menyukai buku. Meggie juga sangat merasakan kenyamanan yang amat sangat ketika sedang membaca – para tokoh yang dia baca bukan hanya nama pada kertas, tapi teman yang selalu ada untuknya.
  8. Sally Hope, dari Malory Towers oleh Enid Blyton. Sangat banyak hal yang Sally simpan sendiri dan dia tidak pernah berkeluh-kesah kepada keluarganya, maupun teman-temannya. Dia sangat tertutup, dan merasa masalah-masalahnya tidak akan terselesaikan hanya karena dia menceritakannya kepada orang lain.
  9. Tobias, dari Animorphs oleh K.A. Applegate. Kabur dari kehidupan lama dan membangun kehidupan baru yang lebih “bebas” dengan membentuk kepribadian yang berbeda? Ya, tentu saja saya pernah melakukannya. Tapi tentunya tidak seekstrem Tobias yang menjalani kehidupan baru dengan menjadi seekor red-tailed hawk.
  10. K, dari Sputnik Sweetheart oleh Haruki Murakami. K adalah karakter yang paling mengingatkan saya pada diri saya sendiri. K di mata dunia dan di mata dirinya sendiri adalah dua orang yang sangat berbeda. Dia tidak bisa mengekspresikan dirinya sendiri, namun orang lain melihatnya sebagai seseorang yang tenang dan tidak terbebani oleh apapun. K selalu menyembunyikan perasaannya, termasuk perasaan cintanya kepada Sumire, yang membuat dia luar biasa labil sepanjang buku ini. Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada perasaan cinta tak berbalas.

Wah, membuat daftar ini rasanya sangat narsis :D. Dan daftar ini sepertinya membuat saya tampak seperti orang antisosial yang punya banyak masalah terpendam ya, hahaha.

[Resensi] Warm Bodies

Warm Bodies

Judul : Warm Bodies

Pengarang : Isaac Marion

Penerbitan : 2010 oleh Vintage (B. Inggris)

Jumlah Halaman : 240

Genre : romance

Jika ada genre buku yang sangat saya hindari, genre itu adalah genre horor. Dari dulu saya paling tidak tahan dengan cerita hantu dan cerita-cerita seram lainnya. Bahkan buku non-horor yang suasananya terlalu mencekam bisa membuat saya susah tidur di malam hari, hehehe. Tapi untuk genre horor sendiri sebetulnya ada pengecualian – saya sangat suka cerita zombi. Walaupun sebelumnya saya belum pernah membaca buku mengenai zombi, film-film zombi yang sudah pernah saya tonton biasanya tidak hanya menampilkan aspek seram dari zombi, tapi menonjolkan upaya para manusia bertahan hidup dalam sebuah zombie apocalypse. Bisa dibilang saya cukup suka dengan kisah survival semacam itu.

Warm Bodies sendiri merupakan buku zombi pertama yang pernah saya baca. Di kisah zombi karya Isaac Marion ini, dijelaskan bahwa dengan memakan otak manusia, selain untuk bertahan hidup mempertahankan keberadannya, para zombi melakukannya untuk mendapatkan sensasi-sensasi hidup yang dihasilkan otak manusia! Para zombi akan mendapatkan kilas balik kehidupan orang tersebut, berikut dengan segala emosi dan pikiran-pikiran yang terdapat dalam otak tersebut. Dalam Warm Bodies, itulah alasan mengapa para zombi sangat menyukai otak manusia.

Dikisahkan pada suatu ekspedisi berburu yang dilakukan R, seorang zombi, dan kawan-kawan zombinya, mereka menemukan sekelompok remaja yang sedang scavenge di sebuah rumah sakit terbengkalai. R berhasil memakan otak Perry Kelvin dan menyerap seluruh pikiran Perry – termasuk ingatan dan perasaannya mengenai pacarnya, Julie Grigio, yang juga berada dalam rombongan tersebut. Perasaan-perasaan itu merasuk sedemikian rupa dalam diri R, sehingga mendorongnya untuk menolong Julie, bukan memakannya. Dengan menyamarkan Julie sebagai seorang zombi, R membawanya ke-“rumah”-nya, yaitu bangkai sebuah pesawat di sebuah bandara yang terbengkalai.

Satu hal yang membedakan zombi-zombi di Warm Bodies dengan zombi yang biasa kita lihat di film adalah zombi-zombi di buku ini memiliki kemampuan berpikir, walaupun sangat minim. Mereka bisa berkomunikasi dan ada gereja tempat zombi “dinikahkan” lalu mengadopsi zombi anak yang kemudian dapat disekolahkan di sekolah untuk zombi anak. Apa yang diajarkan di sekolah zombi? Tentu saja cara untuk memburu, menyerang dan memakan manusia!

Walaupun para zombi dapat berpikir, kemampuan R masih lebih tinggi daripada zombi lainnya. R pun memiliki hati nurani dan sedikit beradab. Di kediamannya, R mengoleksi barang-barang yang dia temukan dalam ekspedisi-ekspedisi berburunya, termasuk koleksi musik Frank Sinatra dan The Beatles yang menjadi favoritnya. Kesukaan R pada musik ini menjadi jembatan penghubung antara dirinya dengan Julie. Hubungan yang terjalin antara R dan Julie akan menjadi pemicu perubahan yang terjadi pada para zombi, juga terhadap komunitas kecil manusia yang masih bertahan hidup.

Jadi sebetulnya ide ceritanya lumayan menarik: kisah cinta antara zombi dan manusia. Belum pernah kan ada yang seperti itu. Sayangnya, walaupun awalnya dibangun dengan baik, secara keseluruhan bukunya cukup membosankan. Selain kisah cintanya sendiri kurang menarik, aksi manusia melawan zombi juga kurang banyak. Dengan mendengar kata “zombi”, sebetulnya saya menyangka akan ada banyak adegan darah muncrat dan bagian tubuh yang bertebaran, tapi ternyata hanya ada 1-2 adegan seperti itu. Sisanya, buku ini menceritakan hubungan R dan Julie yang sangat datar.

Intinya, Warm Bodies sebetulnya memiliki prospek yang cerah, karena idenya cukup segar dan awal ceritanya cukup menarik. Sayangnya lama-kelamaan ceritanya malah menjadi membosankan. Tidak ada ketegangan yang terbangun karena terlalu banyak adegan yang bertele-tele, termasuk adegan di bar dan panti asuhan. Tidak ada penyesalan setelah membaca Warm Bodies, karena ceritanya sendiri tidak buruk. Yang ada hanyalah kekecewaan karena sangat membosankan.