Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2012

“Top Ten Tuesday” adalah sebuah meme mingguan yang diadakan oleh The Broke and the Bookish. Minggu ini topiknya adalah 10 karakter yang paling mengingatkan kita akan diri kita sendiri. Topik yang tidak terlalu sulit, karena buku-buku yang disukai pasti memiliki karakter yang kita rasa mirip dengan diri kita sendiri. 😀

  1. Mary Anne Spier, dari The Baby-Sitter’s Club oleh Ann M. Martin. Dari semua anggota klub baby-sitter ini, waktu SD dulu saya merasa paling mirip dengan Mary Anne yang pendiam dan pemalu. Selain itu, kita berdua rajin mencatat dan catatan kita cukup rapi.
  2. Amy Sutton, dari Sweet Valley Twins oleh Francine Pascal. Sejak kecil, saya selalu merasa diri saya ini tomboy seperti Amy – walaupun saya tidak terlalu jago olahraga dan agak kikuk. Selain itu, kita berdua sama-sama cuek!
  3. Isabelle Melies, dari The Invention of Hugo Cabret oleh Brian Selznick. Kita berdua tergila-gila dengan buku, karena buku menjadi sumber petualangan yang tidak terbatas.
  4. Remus Lupin, dari Harry Potter oleh J.K. Rowling. Seumur hidupnya, Lupin selalu menjadi orang luar, terus-menerus menjadi orang yang “berbeda” dengan yang lainnya. Tapi teman-temannya tidak melihat “perbedaan” itu sebagai suatu kekurangan – mereka menerima Lupin apa adanya.
  5. Bilbo Baggins, dari The Hobbit oleh J.R.R. Tolkien. Hampir di setiap “petualangan” yang saya jalani, pasti ada saat-saat dimana saya menyesali kegiatan yang tengah saya lakukan (karena capek, lapar, takut, ngantuk, dll) dan merindukan kenyamanan rumah. Sama seperti Bilbo, biasanya kegiatan-kegiatan ini tidak memiliki tujuan mulia, tapi hanya untuk kepuasan pribadi. Yang jelas, walaupun kadang terpikir untuk menyerah, ketika sudah sampai di rumah saya pasti ingin segera berpetualang lagi.
  6. Katniss Everdeen, dari The Hunger Games oleh Suzanne Collins. Salah satu alasan kenapa saya sangat suka The Hunger Games adalah karena Katniss adalah pahlawan yang sangat manusiawi. Dia punya banyak kekurangan, tapi dia selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik. Jalan pikiran kita berdua mirip, dan kalau saya mengikuti Hunger Games, sepertinya saya akan melakukan hal yang sama yang dilakukan olehnya.
  7. Meggie Folchart, dari Inkheart oleh Cornelia Funke. Meggie ini kutu buku berat. Dia tidak hanya suka membaca, tapi dia juga menyukai buku. Meggie juga sangat merasakan kenyamanan yang amat sangat ketika sedang membaca – para tokoh yang dia baca bukan hanya nama pada kertas, tapi teman yang selalu ada untuknya.
  8. Sally Hope, dari Malory Towers oleh Enid Blyton. Sangat banyak hal yang Sally simpan sendiri dan dia tidak pernah berkeluh-kesah kepada keluarganya, maupun teman-temannya. Dia sangat tertutup, dan merasa masalah-masalahnya tidak akan terselesaikan hanya karena dia menceritakannya kepada orang lain.
  9. Tobias, dari Animorphs oleh K.A. Applegate. Kabur dari kehidupan lama dan membangun kehidupan baru yang lebih “bebas” dengan membentuk kepribadian yang berbeda? Ya, tentu saja saya pernah melakukannya. Tapi tentunya tidak seekstrem Tobias yang menjalani kehidupan baru dengan menjadi seekor red-tailed hawk.
  10. K, dari Sputnik Sweetheart oleh Haruki Murakami. K adalah karakter yang paling mengingatkan saya pada diri saya sendiri. K di mata dunia dan di mata dirinya sendiri adalah dua orang yang sangat berbeda. Dia tidak bisa mengekspresikan dirinya sendiri, namun orang lain melihatnya sebagai seseorang yang tenang dan tidak terbebani oleh apapun. K selalu menyembunyikan perasaannya, termasuk perasaan cintanya kepada Sumire, yang membuat dia luar biasa labil sepanjang buku ini. Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada perasaan cinta tak berbalas.

Wah, membuat daftar ini rasanya sangat narsis :D. Dan daftar ini sepertinya membuat saya tampak seperti orang antisosial yang punya banyak masalah terpendam ya, hahaha.

Read Full Post »

Warm Bodies

Judul : Warm Bodies

Pengarang : Isaac Marion

Penerbitan : 2010 oleh Vintage (B. Inggris)

Jumlah Halaman : 240

Genre : romance

Jika ada genre buku yang sangat saya hindari, genre itu adalah genre horor. Dari dulu saya paling tidak tahan dengan cerita hantu dan cerita-cerita seram lainnya. Bahkan buku non-horor yang suasananya terlalu mencekam bisa membuat saya susah tidur di malam hari, hehehe. Tapi untuk genre horor sendiri sebetulnya ada pengecualian – saya sangat suka cerita zombi. Walaupun sebelumnya saya belum pernah membaca buku mengenai zombi, film-film zombi yang sudah pernah saya tonton biasanya tidak hanya menampilkan aspek seram dari zombi, tapi menonjolkan upaya para manusia bertahan hidup dalam sebuah zombie apocalypse. Bisa dibilang saya cukup suka dengan kisah survival semacam itu.

Warm Bodies sendiri merupakan buku zombi pertama yang pernah saya baca. Di kisah zombi karya Isaac Marion ini, dijelaskan bahwa dengan memakan otak manusia, selain untuk bertahan hidup mempertahankan keberadannya, para zombi melakukannya untuk mendapatkan sensasi-sensasi hidup yang dihasilkan otak manusia! Para zombi akan mendapatkan kilas balik kehidupan orang tersebut, berikut dengan segala emosi dan pikiran-pikiran yang terdapat dalam otak tersebut. Dalam Warm Bodies, itulah alasan mengapa para zombi sangat menyukai otak manusia.

Dikisahkan pada suatu ekspedisi berburu yang dilakukan R, seorang zombi, dan kawan-kawan zombinya, mereka menemukan sekelompok remaja yang sedang scavenge di sebuah rumah sakit terbengkalai. R berhasil memakan otak Perry Kelvin dan menyerap seluruh pikiran Perry – termasuk ingatan dan perasaannya mengenai pacarnya, Julie Grigio, yang juga berada dalam rombongan tersebut. Perasaan-perasaan itu merasuk sedemikian rupa dalam diri R, sehingga mendorongnya untuk menolong Julie, bukan memakannya. Dengan menyamarkan Julie sebagai seorang zombi, R membawanya ke-“rumah”-nya, yaitu bangkai sebuah pesawat di sebuah bandara yang terbengkalai.

Satu hal yang membedakan zombi-zombi di Warm Bodies dengan zombi yang biasa kita lihat di film adalah zombi-zombi di buku ini memiliki kemampuan berpikir, walaupun sangat minim. Mereka bisa berkomunikasi dan ada gereja tempat zombi “dinikahkan” lalu mengadopsi zombi anak yang kemudian dapat disekolahkan di sekolah untuk zombi anak. Apa yang diajarkan di sekolah zombi? Tentu saja cara untuk memburu, menyerang dan memakan manusia!

Walaupun para zombi dapat berpikir, kemampuan R masih lebih tinggi daripada zombi lainnya. R pun memiliki hati nurani dan sedikit beradab. Di kediamannya, R mengoleksi barang-barang yang dia temukan dalam ekspedisi-ekspedisi berburunya, termasuk koleksi musik Frank Sinatra dan The Beatles yang menjadi favoritnya. Kesukaan R pada musik ini menjadi jembatan penghubung antara dirinya dengan Julie. Hubungan yang terjalin antara R dan Julie akan menjadi pemicu perubahan yang terjadi pada para zombi, juga terhadap komunitas kecil manusia yang masih bertahan hidup.

Jadi sebetulnya ide ceritanya lumayan menarik: kisah cinta antara zombi dan manusia. Belum pernah kan ada yang seperti itu. Sayangnya, walaupun awalnya dibangun dengan baik, secara keseluruhan bukunya cukup membosankan. Selain kisah cintanya sendiri kurang menarik, aksi manusia melawan zombi juga kurang banyak. Dengan mendengar kata “zombi”, sebetulnya saya menyangka akan ada banyak adegan darah muncrat dan bagian tubuh yang bertebaran, tapi ternyata hanya ada 1-2 adegan seperti itu. Sisanya, buku ini menceritakan hubungan R dan Julie yang sangat datar.

Intinya, Warm Bodies sebetulnya memiliki prospek yang cerah, karena idenya cukup segar dan awal ceritanya cukup menarik. Sayangnya lama-kelamaan ceritanya malah menjadi membosankan. Tidak ada ketegangan yang terbangun karena terlalu banyak adegan yang bertele-tele, termasuk adegan di bar dan panti asuhan. Tidak ada penyesalan setelah membaca Warm Bodies, karena ceritanya sendiri tidak buruk. Yang ada hanyalah kekecewaan karena sangat membosankan.

Read Full Post »

The Hobbit

Judul : The Hobbit

Pengarang : JRR Tolkien

Penerbitan : 1979  oleh Unwin Paperbacks (B. Inggris)

Jumlah Halaman : 285

Genre : fantasi

Akhirnya baca juga The Hobbit! Sebetulnya dari dulu sudah penasaran, cuman baru tergerak untuk benar-benar membaca bukunya setelah melihat trailer untuk filmnya yang akan tayang Desember ini. Peter Jackson, sang sutradara, dulu berhasil memfilmkan The Lord of the Rings (buku karangan Tolkien yang lain) sehingga saya pun tidak ragu bahwa dia akan menyajikan tayangan yang sama spektakulernya dengan The Lord of the Rings.

Ternyata bukunya rame! 😀

Bilbo Baggins adalah seorang hobbit, makhluk yang tingginya hanya mencapai pinggang manusia dewasa dan tidak pernah memakai sepatu karena kaki mereka memiliki sol alami serta berbulu lebat. Salah satu sifat utama hobbit adalah mereka tidak menyukai petualangan. Bayangkan betapa terkejutnya Bilbo ketika pertemuan singkatnya dengan Gandalf sang penyihir mengantarkannya pada petualangan dengan 13 dwarf untuk mencuri emas dari seekor naga!

Awalnya, Gandalf merekomendasikan Bilbo sebagai seorang pencuri handal untuk misi para dwarf, sekaligus untuk menggenapkan jumlah rombongan, karena 13 merupakan angka sial. Pimpinan para dwarf, Thorin Oakenshield, dan rekan-rekannya pada awalnya meragukan kemampuan Bilbo, namun seringkali kecerdikan Bilbo-lah yang membantu mereka mengatasi pertemuan dengan troll, goblin, laba-laba raksasa, elf, hingga Smaug sang naga.

Salah satu bagian favorit saya adalah pertemuan Bilbo dengan Smaug untuk pertama kalinya. Dia memperkenalkan dirinya sebagai “clue finder”, “web-cutter”, “Ring-winner”, “Barrel-rider” dan berbagai julukan lainnya – nama-nama yang sekilas penuh dengan teka-teki, namun sebenarnya merangkum seluruh petualangan Bilbo sampai dengan saat dia bertemu dengan Smaug.

Berbicara tentang “Ring-winner”, julukan itu merujuk pada pertemuan antara Bilbo dengan Gollum, makhluk menyedihkan yang berusaha menjebak Bilbo dalam terowongan di bawah gunung. Bilbo berhasil kabur dengan membawa cincin milik Gollum yang dapat membuat penggunanya tidak tampak. Pertemuan Bilbo dan Gollum itu akan menjadi awal mula petualangan Frodo Baggins, keponakan Bilbo, untuk menghancurkan cincin tersebut – yang dikisahkan dalam The Lord of the Rings. Bisa dikatakan bahwa The Hobbit adalah prekuel dari trilogi The Lord of the Rings. Tapi jika The Lord of the Rings merupakan kisah tentang “corrupted power”, hasrat manusia dan tema-tema “berat” lainnya, maka the Hobbit merupakan karya Tolkien yang lebih “ringan”, karena awalnya ditujukan untuk anaknya. Kisahnya memang terkesan “cuman” petualangan mencuri harta karun, tapi petualangannya sendiri luar biasa seru!

Kombinasi dari karakter-karakter menarik, petualangan seru dan gaya bercerita yang enak membuat buku ini asyik untuk dibaca, apalagi bagi penggemar kisah-kisah petualangan. Bilbo sendiri digambarkan sebagai tokoh yang tidak heroik – setiap bahaya menghadang, dia selalu teringat akan rumahnya yang nyaman dan mempertanyakan kenapa dia mau-maunya ikut serta dalam petualangan ini. Ketidakgagahan dan sikap apa adanya Bilbo membuat dia menjadi karakter yang mudah disukai – mungkin itu juga yang membuat saya sebagai pembaca merasa cukup nyambung dengannya.

Read Full Post »