Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2012

The Secret Garden

Judul : The Secret Garden

Pengarang : Frances Hodgson Burnett

Penerbitan : 1967 oleh Puffin Books (B. Inggris)

Jumlah Halaman : 253

Genre : anak

Setelah orangtuanya meninggal akibat kolera, Mary Lennox dikirim ke Yorkshire, Inggris, untuk tinggal dengan pamannya yang nyentrik, Archibald Crane. Rumah besar dengan beratus-ratus kamar dan kebun yang luas yang terletak di tepi sebuah moor (semacam padang rumput yang ditumbuhi semak belukar) pada awal abad ke-20 menjadi latar salah satu cerita klasik anak-anak ini.

Penghuni rumah besar itu hanya Mary, pamannya dan sejumlah pelayan. Tidak adanya teman seumur maupun seorang pengasuh membuat Mary terbiasa menghabiskan hari-harinya seorang diri. Sebuah cerita mengenai salah satu taman yang ditutup dan telah dikunci selama 10 tahun membuat Mary penasaran. Ia menghabiskan waktunya mencari kebun tersebut, dan jerih payahnya membuahkan hasil. Mary menemukan taman rahasia itu dan dengan Dickon, adik salah satu pelayannya, mencoba menghidupkan kembali taman yang nyaris mati itu.

Tapi jangan salah, taman yang terkunci bukan satu-satunya rahasia yang terdapat di rumah itu.

***

Kisah Mary Lennox yang menemukan taman rahasia cukup saya kenal, karena dulu sudah pernah menonton film adaptasinya yang dibuat tahun 1993. Walaupun sudah mengetahui ceritanya, tetap saja bukunya memiliki sihir tersendiri. Pemandangan alam Yorkshire yang suram, dengan hujan yang “wuthering” dan hewan-hewan moor, membuat saya merindukan kenyamanan yang dirasa ketika saya berada jauh dari keramaian; keteduhan dan ketenangan yang datang dengan keterpencilan.

Perubahan yang terjadi pada taman rahasia itu melambangkan perubahan yang terjadi kepada para penghuni rumah. Mary yang awalnya dingin, egois dan pemarah berubah menjadi gadis yang ramah dan lebih simpatik. Begitu juga dengan seorang karakter utama yang jika diceritakan benar-benar menjadi spoiler – jadi tidak akan saya ceritakan :p.

Intinya, Frances Hodgson Burnett sangat berhasil membangun mood buku ini. Pembaca benar-benar diajak ke dunia lain ketika berada di taman rahasia. Rumah paman Mary, Archibald Crane, pun terasa sangat dingin dan kosong, apalagi Mary hanya berinteraksi dengan orang yang itu-itu saja.

Tidak salah buku ini menjadi salah satu cerita anak klasik, karena tidak hanya menggambarkan dunia anak yang penuh keajaiban, tapi juga memberikan harapan. The Secret Garden sangat saya rekomendasikan, tidak hanya bagi anak-anak, tapi bagi siapapun yang merasakan keajaiban dalam setiap kebaikan.

Read Full Post »

The Alchemyst

Judul : The Alchemyst (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #1)

Pengarang : Michael Scott

Penerbitan : 2007 oleh Delacorte Press (B. Inggris)

Jumlah Halaman : 375

Genre : fantasi

Bagi penggemar Harry Potter, nama Nicholas Flamel mungkin sudah tidak asing lagi. Dalam buku pertama seri tersebut, Flamel diceritakan sebagai seorang alkemis yang menggunakan philosopher’s stone untuk hidup abadi. Dalam kehidupan nyata, Flamel adalah seorang alkemis yang meninggal di Paris pada tahun 1418.

Dalam serial The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel karya Michael Scott, tokoh Flamel diceritakan masih hidup di abad ke-21 dan tinggal di San Fransisco. Nicholas Flamel dan istrinya, Perenelle (yang juga dikisahkan hidup abadi), memiliki toko buku, di mana seorang anak bernama Josh Newman bekerja pada masa liburannya. Kembaran Josh yang bernama Sophie bekerja di sebuah coffee shop yang berada di seberang jalan dari toko buku milik Flamel.

Kedatangan Dr. John Dee, seorang ahli sihir Inggris (yang juga hidup abadi), ke toko milik Flamel menjadi pemicu serangkaian kejadian magis yang melibatkan Josh dan Sophie. Dee datang ke toko milik Flamel untuk mencuri Codex, sebuah buku yang ditulis oleh Abraham the Mage. Dee menginginkan buku itu karena selain memuat resep ramuan kehidupan abadi menggunakan philosopher’s stone, buku itu juga mengandung sejarah serta berbagai rahasia dunia. Di tangan yang salah, rahasia-rahasia yang terdapat dalam Codex dapat mengakibatkan kehancuran dunia.

Akhir dari pertemuan singkat dengan Dee itu menjadi malapetaka bagi Flamel: tokonya hancur, istrinya diculik oleh Dee, serta Codex pun berhasil direbut oleh Dee. Untungnya, Josh berhasil merobek dua lembar terakhir dari Codex, yang juga merupakan dua lembar paling penting bagi misi yang hendak dijalankan Dee. Ia membutuhkan Codex untuk membangkitkan kembali ras Dark Elder untuk kembali menguasai dunia. Namun karena hilangnya dua halaman tersebut, Dee harus menunda rencananya untuk membangkitkan kembali para Dark Elder – prioritasnya berubah menjadi mengejar Flamel serta si kembar Josh dan Sophie yang kini berada dalam lindungan Flamel.

Untuk melindungi Josh dan Sophie dari Dee dan kekuatan sihirnya, Flamel memutuskan untuk membangitkan kemampuan sihir Josh dan Sophie sekaligus melatih mereka untuk menguasai elemental magic: udara, api, air, tanah. Salah satu orang yang dapat membangkitkan kekuatan sihir dan  adalah seorang Elder, yaitu Hekate. Dalam perjalanan menuju realm milik Hekate, mereka dibantu oleh seorang Elder generasi baru ahli beladiri bernama Scatach, sementara Dee dibantu oleh dua Elder, Morrigan dan Bastet.

Walaupun awalnya memiliki prosperk cerah, pada akhirnya ternyata bukunya biasa-biasa saja. Memang, seluruh buku menceritakan kejadian yang terjadi dalam dua hari, dan sangat banyak hal yang terjadi dalam tempo waktu tersebut. Sayangnya, penempatan dialog yang kurang pas, terutama di bagian aksi, membuat cerita tersendat-sendat dan terasa bertele-tele. Saya juga kesulitan menamatkan buku ini karena kurang greget.

Karakter-karakternya pun kurang berkembang. Josh dan Sophie adalah tokoh-tokoh yang sangat hambar – kurang menarik dan tidak bisa menarik simpati saya sebagai pembaca. Dr. John Dee jugs merupakan antagonis yang membosankan. Sejauh ini, tokoh favorit saya adalah Scatach, ahli bela diri yang umurnya bahkan jauh lebih tua daripada Flamel.

Walaupun bukunya biasa-biasa saja, masalahnya, saya sangat suka dengan mitologi, dan buku ini mencaplok sangat banyak tokoh dari berbagai jenis mitologi, seperti Scatach, Bastet dan Morrigan. Scatach dan Morrigan berasal dari mitologi Irlandia, sedangkan Bastet merupakan dewi berkepala kucing dari mitologi Mesir kuno. Nicholas dan Perry Flamel, serta John Dee pun bukan tokoh rekaan sang pengarang – mereka benar-benar pernah hidup di bumi ini berabad-abad yang lalu. Kepiawaian Michael Scott dalam memasukkan unsur-unsur sejarah, mitologi dan sihirlah yang sebetulnya memicu saya untuk menyelesaikan buku ini, karena saya selalu menanti-nantikan tokoh mitologi yang akan dimunculkan berikutnya.

Secara keseluruhan, bukunya biasa saja. Menghibur, tapi kurang greget. Sangat dianjurkan bagi yang menyukai fantasi, apalagi yang berlandaskan mitos, seperti buku-bukunya Rick Riordan. Saya rasa anak-anak akan suka buku ini karena unsur petualangannya cukup kental, walaupun karakter-karakternya kurang tergali dengan baik.

Read Full Post »

Judul : Autumn In Paris

Pengarang : Ilana Tan

Penerbitan : 2007 oleh Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman : 264

Genre : romance

Belakangan ini, saya dan teman saya, K, ingin menambah buku-buku karya pengarang Indonesia yang kami baca. Untuk menghemat, sudah beberapa kali kami memutuskan untuk patungan membeli buku. Salah satunya adalah Autumn In Paris oleh Ilana Tan. K sudah pernah membacanya, namun saya belum. Kami memutuskan untuk membacanya karena kami membutuhkan bacaan yang ringan dan menghibur.

Ceritanya, Tara Dupont yang bekerja sebagai penyiar radio di Paris, berkenalan dengan Tatsuya Fujisawa, seorang pria Jepang yang tengah ke Paris untuk bekerja sekaligus mencari ayah kandungnya. Karakter Tatsuya membangkitkan rasa penasaran Tara, dan hubungan pertemanan mereka lama-lama tumbuh menjadi cinta…

… Dan sepertinya hanya itu yang bisa saya ceritakan. Tidak mungkin menceritakan lebih jauh karena konflik utama dalam buku ini merupakan spoiler yang sangat mempengaruhi alur cerita. Tapi intinya, ada seseorang dalam masa lalu Tara dan Tatsuya yang mengancam keberlangsungan hubungan cinta mereka berdua.

Sebetulnya sinopsis cerita di atas tidak jauh berbeda dari blurb yang terdapat di belakang buku ini. Tapi mau bagaimana lagi, karena alur ceritanya sangat sederhana dan mudah ditebak. Namun walaupun mudah ditebak, ternyata ketika membaca buku ini saya tetap saja saya menangis “shameless tears”, kalau kata K, hahaha. Autumn In Paris membuat saya cukup galau karena masalah yang mereka hadapi dapat menghancurkan hubungan mereka. Ibaratnya, kalau menemui batu sandungan seperti ini, ya, pupus sudah semua harapan.

Tetapi walaupun sangat sederhana, Autumn In Paris cukup menghibur. Gaya bercerita Ilana Tan yang tidak bertele-tele dan dialog yang enak dibaca membuat beberapa jam yang saya habiskan untuk membaca buku ini tidak terasa terbuang dengan percuma. Kalau memang mencari bacaan yang mudah dicerna tapi masih mampu mengaduk-aduk emosi, Autumn In Paris bisa dibaca. Saya jadi penasaran dengan karya Ilana Tan yang lain, tapi sepertinya harus menyiapkan mental dulu – takutnya menguras air mata lagi seperti Autumn In Paris, hehehe. 😀

 

Read Full Post »

“Top Ten Tuesday” adalah sebuah meme mingguan yang diadakan oleh The Broke and the Bookish. Minggu ini topiknya bebas, jadi saya memutuskan untuk membuat daftar 10 karakter fiksi terfavorit!

  1. Jupiter Jones, dari seri Trio Detektif oleh Robert Arthur, Jr. Jupiter adalah ketua dari kelompok Trio Detektif, tiga anak remaja yang memecahkan kasus-kasus misterius yang umumnya terjadi di wilayah Rocky Beach, California. Jupiter digambarkan sebagai anak yang cerdas dan agak sok tahu. Keahliannya menyamar sering membantu keompok detektifnya dalam memecahkan berbagai kasus.
  2. Hercule Poirot, karangan Agatha Christie. Kadang saya suka berpikir kalau Poirot adalah penjelmaan Jupiter Jones dari Trio Detektif ketika dia sudah dewasa. Dua-duanya memiliki sikap sok tahu dan angkuh yang sama. Poirot adalah detektif jenius yang tidak hanya menggunakan bukti-bukti fisik untuk mengungkap pelaku kejahatan, tetapi ia juga menganalisa kasus dari sisi psikologis tokoh-tokoh yang terlibat.
  3. Rubeus Hagrid, dari seri Harry Potter oleh J.K. Rowling. Hagrid, orang yang membukakan pintu ke dunia sihir kepada Harry. Hagrid memang makhluk setengah raksasa yang memiliki kecenderungan untuk menyukai “monster” ganas, tapi dia sangat setia kepada Dumbledore, Harry dan teman-temannya. Saya sangat bersyukur Hagrid tidak menemui ajalnya sepanjang serial ini :).
  4. Bartimaeus, dari The Bartimaeus Trilogy oleh Jonathan Stroud. Dua kata: catatan kaki! 😀
  5. Sam Gamgee, dari The Lord of the Rings oleh J.R.R. Tolkien. Sam, tukang kebun Frodo yang setia dari awal hingga akhir perjalanannya ke Mordor.
  6. Percy Jackson, dari seri Percy Jackson and the Olympians dan The Heroes of Olympus oleh Rick Riordan. Kemampuan Percy untuk mengendalikan air saaaangat keren! Namun walaupun dia merupakan salah satu demigod terkuat di antara teman-temannya, Percy tetap rendah hati dan apa adanya: bicaranya ceplas-ceplos dan sikapnya agak kikuk.
  7. Nico di Angelo, dari seri Percy Jackson and the Olympians dan The Heroes of Olympus oleh Rick Riordan. Nico itu salah satu karakter yang mengalami perkembangan karakter paling menarik dari seri Percy Jackson and the Olympians hingga The Heroes of Olympus. Dia berubah dari bocah rewel yang sangat bergantung kepada kakaknya menjadi anak yang tertutup dan misterius – mungkin karena interaksi berlebihnya dengan orang mati ya. Perannya di kedua seri tersebut cukup besar, namun tidak pernah diceritakan secara berlebihan sehingga mengundang rasa penasaran.
  8. Erica Yurken, dari Hating Alison Ashley oleh Robin Klein. Pembohong kronis yang sangat imajinatif! Erica akan mengarang cerita apapun agar kehidupan nyatanya tidak ketahuan oleh teman-temannya, terutama oleh Alison Ashley, si anak baru yang membuat Erica minder setengah mati.
  9. Ellie Linton, dari seri Tomorrow oleh John Marsden. Oke, Ellie bisa menyetir Land Rover, motor, traktor, bahkan truk! Ia juga mampu menjadi pemimpin di antara sekelompok kecil teman-temannya yang selamat ketika kota kecil mereka diserang oleh penjajah.
  10. Rowena Batts, dari Blabbermouth, Sticky Beak dan Gift of the Gab oleh Morris Gleitzman. Walaupun bisu, Rowena sangat ekspresif dalam berkomunikasi. Seperti tokoh-tokoh rekaan Morris Gleitzman yang lain, Rowena cenderung bersikap impulsif dan memiliki pendapat yang agak “nyeleneh” mengenai hal-hal pada umumnya.

Read Full Post »