Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘zombi’

Warm Bodies

Judul : Warm Bodies

Pengarang : Isaac Marion

Penerbitan : 2010 oleh Vintage (B. Inggris)

Jumlah Halaman : 240

Genre : romance

Jika ada genre buku yang sangat saya hindari, genre itu adalah genre horor. Dari dulu saya paling tidak tahan dengan cerita hantu dan cerita-cerita seram lainnya. Bahkan buku non-horor yang suasananya terlalu mencekam bisa membuat saya susah tidur di malam hari, hehehe. Tapi untuk genre horor sendiri sebetulnya ada pengecualian – saya sangat suka cerita zombi. Walaupun sebelumnya saya belum pernah membaca buku mengenai zombi, film-film zombi yang sudah pernah saya tonton biasanya tidak hanya menampilkan aspek seram dari zombi, tapi menonjolkan upaya para manusia bertahan hidup dalam sebuah zombie apocalypse. Bisa dibilang saya cukup suka dengan kisah survival semacam itu.

Warm Bodies sendiri merupakan buku zombi pertama yang pernah saya baca. Di kisah zombi karya Isaac Marion ini, dijelaskan bahwa dengan memakan otak manusia, selain untuk bertahan hidup mempertahankan keberadannya, para zombi melakukannya untuk mendapatkan sensasi-sensasi hidup yang dihasilkan otak manusia! Para zombi akan mendapatkan kilas balik kehidupan orang tersebut, berikut dengan segala emosi dan pikiran-pikiran yang terdapat dalam otak tersebut. Dalam Warm Bodies, itulah alasan mengapa para zombi sangat menyukai otak manusia.

Dikisahkan pada suatu ekspedisi berburu yang dilakukan R, seorang zombi, dan kawan-kawan zombinya, mereka menemukan sekelompok remaja yang sedang scavenge di sebuah rumah sakit terbengkalai. R berhasil memakan otak Perry Kelvin dan menyerap seluruh pikiran Perry – termasuk ingatan dan perasaannya mengenai pacarnya, Julie Grigio, yang juga berada dalam rombongan tersebut. Perasaan-perasaan itu merasuk sedemikian rupa dalam diri R, sehingga mendorongnya untuk menolong Julie, bukan memakannya. Dengan menyamarkan Julie sebagai seorang zombi, R membawanya ke-“rumah”-nya, yaitu bangkai sebuah pesawat di sebuah bandara yang terbengkalai.

Satu hal yang membedakan zombi-zombi di Warm Bodies dengan zombi yang biasa kita lihat di film adalah zombi-zombi di buku ini memiliki kemampuan berpikir, walaupun sangat minim. Mereka bisa berkomunikasi dan ada gereja tempat zombi “dinikahkan” lalu mengadopsi zombi anak yang kemudian dapat disekolahkan di sekolah untuk zombi anak. Apa yang diajarkan di sekolah zombi? Tentu saja cara untuk memburu, menyerang dan memakan manusia!

Walaupun para zombi dapat berpikir, kemampuan R masih lebih tinggi daripada zombi lainnya. R pun memiliki hati nurani dan sedikit beradab. Di kediamannya, R mengoleksi barang-barang yang dia temukan dalam ekspedisi-ekspedisi berburunya, termasuk koleksi musik Frank Sinatra dan The Beatles yang menjadi favoritnya. Kesukaan R pada musik ini menjadi jembatan penghubung antara dirinya dengan Julie. Hubungan yang terjalin antara R dan Julie akan menjadi pemicu perubahan yang terjadi pada para zombi, juga terhadap komunitas kecil manusia yang masih bertahan hidup.

Jadi sebetulnya ide ceritanya lumayan menarik: kisah cinta antara zombi dan manusia. Belum pernah kan ada yang seperti itu. Sayangnya, walaupun awalnya dibangun dengan baik, secara keseluruhan bukunya cukup membosankan. Selain kisah cintanya sendiri kurang menarik, aksi manusia melawan zombi juga kurang banyak. Dengan mendengar kata “zombi”, sebetulnya saya menyangka akan ada banyak adegan darah muncrat dan bagian tubuh yang bertebaran, tapi ternyata hanya ada 1-2 adegan seperti itu. Sisanya, buku ini menceritakan hubungan R dan Julie yang sangat datar.

Intinya, Warm Bodies sebetulnya memiliki prospek yang cerah, karena idenya cukup segar dan awal ceritanya cukup menarik. Sayangnya lama-kelamaan ceritanya malah menjadi membosankan. Tidak ada ketegangan yang terbangun karena terlalu banyak adegan yang bertele-tele, termasuk adegan di bar dan panti asuhan. Tidak ada penyesalan setelah membaca Warm Bodies, karena ceritanya sendiri tidak buruk. Yang ada hanyalah kekecewaan karena sangat membosankan.

Iklan

Read Full Post »